Praktikum Basis Data : DDL DML AGREGASI & GROUPING menggunakan SQL

Sebelum kita memulai ke pembahasan ada baiknya kita mengenal apa itu MYSQL, SQL DDL , DML dan AGREGASI&GROUPING,
yang pertama kita akan membahas DDL .

APA ITU MYSQL dan SQL ?

Di dalam sistem basis data, basis data tidak dapat berdiri sendiri sehingga pasti terdapat komponen lain yang saling mendukung satu dengan lainnya. Hal yang dimaksud adalah sistem pengelola basis data atau Data Base Management System (DBMS). DBMS adalah perangkat lunak khusus yang digunakan untuk mengelola basis data. Perangkat lunak yang termasuk DBMS diantaranya meliputi dBase, Microsoft-Access, Oracle Database, dan MySQL. Adapun DBMS yang akan kita gunakan kali ini adalah MySQL. Dengan demikian, secara sederhana kita dapat mengatakan bahwa MySQL adalah perangkat lunak sistem manajemen basis data relasional yang digunakan untuk mengelola atau mengatur database yang memungkinkan user untuk berinteraksi dengan basis data di dalam disk. Lalu, Structured Query Language (SQL) adalah bahasa basis data yang paling populer saat ini.

APA ITU DDL ?

Data Definition Language (DDL) adalah bahasa basis data yang digunakan untuk mendefinisikan, mengubah, dan menghapus basis data serta objek-objek yang diperlukan, seperti table, view , user , index dan sebagainya . DDL biasa digunakan oleh Data Base Administrator (DBA) dalam pembuatan sebuah aplikasi basis data. Secara umum, DDL yang digunakan meliputi perintah sebagai berikut :

  • CREATE; digunakan untuk membuat objek yang baru;
  • ALTER;digunakan untuk mengubah objek yang sudah ada;
  • DROP;digunakan untuk menghapus objek yang sudah ada.

Apa saja Perintah yang Umum Digunakan pada MySQL?
Adapun beberapa contoh perintah DDL yang umum digunakan pada MySQL adalah sebagai berikut: 


Bagaimana Menjalankan MYSQL ?

1. Download dan Install xampp pada komputer / laptop
2. Aktifkan MYSQL dan APACHE pada xampp
3. Jika sudah buka Command Prompt atau CMD dan ketikan seperti gambar di bawah ini;

4. Jika sudah ketikan mysql -u root seperti gambar di bawah ini;

Pertama kita akan mencoba perintah-perintah DDL.
untuk menggunakan perintah DDL adalah sebagai berikut :

1. CREATE

  • Membuat Database
    CREATE nama_database;
    Contoh :

    untuk menggunakan database bisa menggunakan perintah:
    use nama_database;
  • Membuat Tabel
    CREATE TABLE nama_tabel(
    nama_field_1 tipe_data,
    nama_field_2 tipe_data,
    .
    .
    .
    );
    contoh :

2. DROP

  • Menghapus Tabel;
    DROP TABLE nama_tabel;
    contoh:
  • Menghapus Database
    DROP DATABASE nama_database;
    contoh:

3. ALTER

  • Mengubah Nama Tabel
  • Menambah Kolom
  • Mengganti kolom
  • Mengahapus Kolom

Berikut tadi adalah beberapa perintah-perintah yang ada di dalam DDL, selanjutnya adalah mengenai DML.


 

APA ITU DML ?
Data Manipulation Language (DML) adalah bahasa SQL yang berfungsi untuk memanipulasi data yang ada di dalam basis data, dan digunakan untuk mengambil, memasukan, memodifikasi, bahkan menghapus informasi yang ada di dalam database tersebut. Beberapa Kegunaan dari DML adalah sebagai berikut :

  1. Pengambilan Informasi yang disimpan dalam basis data(SELECT).
  2. Penyisipan informasi baru ke basis data (INSERT).
  3. Penghapusan informasi dari basis data (DELETE),
  4. Modifikasi informasi yang disimpan dalam basis data (UPDATE).

Langsung saja kepada pembahasan dan contoh di bawah ini ;

1. INSERT
Berfungsi untuk memasukan data ke dalam tabel , berikut adalah contohnya :

a. cara langsung
INSERT INTO namatabel VALUES (isi1, isi2,….);

b. cara tak langsung
INSERT INTO namatabel (namafield1,namafield2,..) VALUES(isi1,isi2,…);

contoh :
INSERT INTO mhs VALUES
    (‘1403111′,’Arsyad H’,’Jalan ABC’,’2014′),
    (‘1201981′,’Kamal J’,’Jalan ABC’,’2012′),
    (‘1108762′,’Andi R’,’Jalan ABC’,’2011′),
    (‘1403411′,’Samsul B’,’Jalan ABC’,’2014′),
    (‘1311092′,’Ardian G’,’Jalan ABC’,’2013′);

2. SELECT

Berfungsi untuk melakukan pengambilan sejumlah data yang ada di dalam table untuk di tampilkan
ataupun di manipulasi. SQL yang digunakan:

a. Menampilkan seluruh isi tabel
SELECT * FROM nama_tabel;
contoh: SELECT * from mhs;

b. Menampilkan dengan klausa WHERE
SELECT * FROM nama_tabel WHERE kondisi;
contoh: SELECT nim,nama FROM mhs WHERE angkatan=’2014′;

c. Menampilkan Field tertentu
SELECT nama_field1,nama_field2,..FROM nama_tabel;
contoh : SELECT nama,angkatan FROM mhs;

d. Menampilkan data yang diambil dari beberapa tabel
SELECT tabel1.field, tabel2.field,…
FROM tabel1,tabel,…
WHERE kondisi;

e. Penggunaan operator AND dan OR
Untuk mengambil data tertentu dengan kondisi lebih dari satu,dan apabila semua syarat bernilai benar.
SELECT * FROM nama_tabel WHERE kondisi1 AND kondisi2 AND kondisi3,..;
SELECT * FROM nama_tabel WHERE kondisi1 OR kondisi2 OR kondisi3,..;

contoh;
SELECT a.nim, a.nama ,b.nip, b.nama
FROM mhs a, dosen b, mengajar c
WHERE a.nim=c.nim AND b.nip=c.nip;

f. Penggunaan BETWEEN dan NOT BETWEEN
untuk meyaring data dengan rentang tertentu.
SELECT * FROM nama_tabel WHERE field BETWEEN/NOT BETWEEN bts_bawah AND batas_atas;
contoh:
SELECT * FROM mengajar WHERE id_mengajar BETWEEN 2 AND 5;

g. Penggunaan LIKE dan NOT LIKE
untuk menyeleksi data dengan kriteria mengandung kata atau klausa yg di definisikan oleh LIKE

SELECT * FROM nama-tabel WHERE field LIKE/NOT LIKE ‘%..’; kata atau klausa berada di akhir
SELECT * FROM nama-tabel WHERE field LIKE/NOT LIKE ‘..%’; kata atau klausa berada di awal
SELECT * FROM nama-tabel WHERE field LIKE/NOT LIKE ‘%..&’; kata atau klausa berada di tengah

contoh :
SELECT nama FROM mhs WHERE nama LIKE ‘A%’;

Penggunaan Operator ODER BY
Digunakan untuk mengurutkan data
SELECT * FROM nama_tabel ORDER BY namafield;
Contoh : SELECT * FROM mhs ORDER BY nim;

Penggunaan Operator ASC dan DESC
untuk mengurutkan data yang ditampilkan secara naik atau turun.
SELECT * FROM nama_tabel ORDER BY namafield ASC;
SELECT * FROM nama_tabel ORDER BY namafield DESC;
contoh : SELECT * FROM dosen ORDER BY nip DESC;

 

3. UPDATE
Perintah yang di gunakan untuk memperbarui data lama menjadi data terbaru. Update disini harus diikuti dengan perintah WHERE
sebagai kondisi untuk menentukan data mana yang akan di perbarui

UPDATE nama_tabel SET field1=nilai_baru,… WHERE kondisi;

contoh : UPDATE mhs SET nama=’Andi K’ WHERE nim=’1108762′;

4. DELETE
Perintah yang digunakan untuk menghapus atau menghilangkan baris data dari table

DELETE FROM nama_tabel WHERE kondisi;
contoh : DELETE FROM mhs WHERE nim=’1403111′;

Berikut tadi adalah beberapa perintah-perintah yang ada di dalam DML, selanjutnya adalah mengenai Agregasi dan Grouping.



 

AGREGASI & GROUPING

Apa itu fungsi aggregasi? Fungsi aggregasi adalah fungsi matematika sederhana dalam SQL. Biasanya fungsi aggregasi ini digunakan pada bagian SELECT untuk melakukan perhitungan dengan melibatkan sekumpulan data atau nilai. Sedangkan grouping merupakan fungsi untuk mengelompokkan suatu data tabel berdasarkan salah satu field yang diperlukan dari tabel tersebut.

Langsung saja kepada pembahasan dan contohnya :

—-AGREGASI—-

1. AVG
Fungsi ini digunakan untuk menghasilakn nilai rata-rata sekelompok nilai dari sebuah field numerik
SELECT AVG(nama_field) FROM nama_tabel;
Contoh: SELECT AVG (nilai) FROM nilai;

2. COUNT
Fungsi ini digunakan untuk menghasilkan nilai jumlah data(baris) dari sekelompok data tabel maupun view
SELECT COUNT(nama_field) FROM nama_tabel;
contoh : SELECT COUNT(nama_dosen) FROM dosen;

3. MAX
Fungsi ini digunakan untuk menghasilkan nilai tertinggi dari sekelompok data dalam sebuah field
SELECT MAX(nama_field) FROM nama_tabel;
Contoh : SELECT MAX(nilai) FROM nilai;

4. MIN
Fungsi ini digunakan untuk menghasilkan nilai terendah dari sekelompok data dalam sebuah field.
SELECT MIN(nama_field) FROM nama_tabel;
contoh : SELECT MIN(nilai) FROM nilai;

5. SUM
Fungsi ini digunakan untuk menghasilkan nilai total jumlah sekelompok dari sebuah kolom.
SELECT SUM(nama_field) FROM nama_tabel;
contoh : SELECT SUM(usia) FROM mahasiswa;

6. ROUND
Fungsi ini digunakan untuk melengkapi bidang numerik dengan jumlah desimal yg ditentukan
SELECT ROUND(nama_field) FROM nama_tabel;
contoh : SELECT ROUND(nilai,0) FROM nilai;

7. STDDEV_POP
Fungsi ini digunakan untuk menghasilkan nilai standar deviasi populasi.
SELECT STDDEV_POP(nama_field) FROM nama_tabel;
contoh : SELECT STDDEV_POP(nilai) from nilai;

8. VAR_POP
Fungsi ini digunakan untuk menghasilkan nilai standart varian populasi.
SELECT VAR_POP(nama_field) FROM nama_tabel;
contoh : SELECT VAR_POP(nilai) FROM nilai;

—-GROUPING—-

1. ORDER BY 
Perintah digunakan untuk menampilkan data secara terurut berdasarkan nilai tertentu.
biasanya dikelompokan menjadi 2 yaitu ascending dan descending.
SELECT * FROM (nama_tabel) ORDER BY atribut ASC/DESC;
contoh : SELECT * FROM matkul ORDER BY nip DESC;

2. GROUP BY
Perintah yang digunakan untuk mengelompokan beberapa data pada perintah SELECT.
SELECT * FROM (nama_tabel) GROUP BY atribut;
contoh : SELECT * FROM nilai GROUP BY nim;

3. HAVING
Fungsi HAVING berkaitan dengan GROUP BY dan AGREGASI. biasanya digunakan untuk menentukan
kondisi tertentu pada group by dan kondisi tsb berkaitan dengan fungsi agregasi. Fungsi ini
memiliki kemiripan dengan WHERE dalam penggunaannya. HAVING digunakan dalam SQL karena WHERE tidak dapat
digunakan dengan fungsi agregasi.

SELECT atribut FROM nama_tabel GROUP BY atribut HAVING fungsi_agregasi;
contoh : SELECT nim, kode_matkul, nilai FROM nilai GROUP BY nim, kode_matkul HAVING AVG(nilai)>80;

4. VIEW
View dapat disebut tabel semu. Data-data pada table view dapat merupakan gabungan dari pada tabel lainnya.

View dapat digunakan untuk pengaksesan atas sebuat table tertentu, jadi user hanya boleh melihat table yang berisi data-data
secara spesifik.

Untuk membuat table semu
CREATE VIEW nama_view AS<Query>
contoh :
CREATE VIEW V_nilaiMHS as Select a.nim, a.nama, b.nama_matkul, c.nama_dosen, d.nilai
FROM mahasiswa as a, matkul as b, nilai as d, dosen as c
WHERE a.nim=d.nim and b.kode_matkul=d.kode_matkul and c.nip=b.nip;

Untuk melihat table semua
SELECT *FROM nama_tabel_semu;
contoh : SELECT * FROM V_nilaiMHS;

 

Sekian merupakan ringkasan dari materi praktikum 1,2,3 , mohon maaf apabila terdapat banyak kesalahan,
beberapa materi bersumber dari MODUL PRAKTIKUM BASIS DATA ASISTEN DOSEN 1-3 Ilmu Komputer UPI Bandung, Jawa barat. Terimakasih..

 

Mengukur Atau Menguji Komponen Elektronika

Cara Menggunakan Multimeter / Multitester

Cara Menggunakan Multimeter – Multimeter adalah alat yang berfungsi untuk mengukur Voltage (Tegangan), Ampere (Arus Listrik), dan Ohm (Hambatan/resistansi) dalam satu unit. Multimeter sering disebut juga dengan istilah Multitester atau AVOMeter (singkatan dari Ampere Volt Ohm Meter). Terdapat 2 jenis Multimeter dalam menampilkan hasil pengukurannya yaitu Analog Multimeter (AMM) dan Digital Multimeter (DMM).

Sehubungan dengan tuntutan akan keakurasian nilai pengukuran dan kemudahan pemakaiannya serta didukung dengan harga yang semakin terjangkau, Digital Multimeter (DMM) menjadi lebih populer dan lebih banyak dipergunakan oleh para Teknisi Elektronika ataupun penghobi Elektronika.

Dengan perkembangan teknologi, kini sebuah Multimeter atau Multitester tidak hanya dapat mengukur Ampere, Voltage dan Ohm atau disingkat dengan AVO, tetapi dapat juga mengukur Kapasitansi, Frekuensi dan Induksi dalam satu unit (terutama pada Multimeter Digital). Beberapa kemampuan pengukuran Multimeter yang banyak terdapat di pasaran antara lain :

  • Voltage (Tegangan) AC dan DC satuan pengukuran Volt
  • Current (Arus Listrik) satuan pengukuran Ampere
  • Resistance (Hambatan) satuan pengukuran Ohm
  • Capacitance (Kapasitansi) satuan pengukuran Farad
  • Frequency (Frekuensi) satuan pengukuran Hertz
  • Inductance (Induktansi) satuan pengukuran Henry
  • Pengukuran atau Pengujian Dioda
  • Pengukuran atau Pengujian Transistor

Bagian-bagian penting Multimeter

Multimeter atau multitester pada umumnya terdiri dari 3 bagian penting, diantanya adalah :

  1. Display
  2. Saklar Selektor
  3. Probe

Gambar dibawah ini Merupakan bagian penting dari Multimeter Digital dan Analog;

 

Cara Mengukur Dioda dengan Multimeter

Untuk mengetahui apakah sebuah Dioda dapat bekerja dengan baik sesuai dengan fungsinya, maka diperlukan pengukuran terhadap Dioda tersebut dengan menggunakan Multimeter (AVO Meter).

Cara Mengukur Dioda dengan Multimeter Analog

  1. Aturkan Posisi Saklar pada Posisi OHM (Ω) x1k atau x100
  2. Hubungkan Probe Merah pada Terminal Katoda (tanda gelang)
  3. Hubungkan Probe Hitam pada Terminal Anoda.
  4. Baca hasil Pengukuran di Display Multimeter
  5. Jarum pada Display Multimeter harus bergerak ke kanan
  6. Balikan Probe Merah ke Terminal Anoda dan Probe Hitam pada Terminal Katoda (tanda gelang).
  7. Baca hasil Pengukuran di Display Multimeter
  8. Jarum harus tidak bergerak.
    **Jika Jarum bergerak, maka Dioda tersebut berkemungkinan sudah rusak.

Cara Mengukur Transistor dengan Multimeter Digital

Pada umumnya, Multimeter Digital memiliki fungsi mengukur Dioda dan Resistansi (Ohm) dalam Saklar yang sama. Maka untuk Multimeter Digital jenis ini, Pengujian Multimeter adalah terbalik dengan Cara Menguji Transistor dengan Menggunakan Multimeter Analog.

Cara Mengukur Transistor PNP dengan Multimeter Digital

  1. Atur Posisi Saklar pada Posisi Dioda
  2. Hubungkan Probe Hitam pada Terminal Basis (B) dan Probe Merah pada Terminal Emitor (E), Jika Display Multimeter menunjukan nilai Voltage tertentu, berarti Transistor tersebut dalam kondisi baik
  3. Pindahkan Probe Merah pada Terminal Kolektor (C), jika Display Multimeter nilai Voltage tertentu, berarti Transistor tersebut dalam kondisi baik.

Cara Mengukur Transistor NPN dengan Multimeter Digital

  1. Atur Posisi Saklar pada Posisi Dioda
  2. Hubungkan Probe Merah pada Terminal Basis (B) dan Probe Hitam pada Terminal Emitor (E), Jika Display Multimeter menunjukan nilai Voltage tertentu, berarti Transistor tersebut dalam kondisi baik
  3. Pindahkan Probe Hitam pada Terminal Kolektor (C), jika Display Multimeter menunjukan nilai Voltage tertentu, berarti Transistor tersebut dalam kondisi baik.

Cara Mengukur/Menguji Kapasitor dengan Multimeter Digital

Cara mengukur Kapasitor dengan Multimeter Digital yang memiliki fungsi Kapasitansi Meter cukup mudah, berikut ini caranya :

  1. Atur posisi skala Selektor ke tanda atau Simbol Kapasitor
  2. Hubungkan Probe ke terminal kapasitor.
  3. Baca Nilai Kapasitansi Kapasitor tersebut.

Cara Menguji Resistor dengan Multimeter Digital

  1. Atur Posisi Saklar Selektor ke Ohm (Ω)
  2. Pilih skala sesuai dengan perkiraan Ohm yang akan diukur. Biasanya diawali ke tanda “X” yang artinya adalah “Kali”. (khusus Multimeter Analog)
  3. Hubungkan probe ke komponen Resistor, tidak ada polaritas, jadi boleh terbalik.
  4. Baca hasil pengukuran di Display Multimeter. (Khusus untuk Analog Multimeter, diperlukan pengalian dengan setting di langkah ke-2)

–> Source1

Komponen Elektronika

      Komponen elektronika adalah elemen terkecil dalam suatu rangkaian elektronika. Dalam rangkaian elektronika pada umumnya terdiri dari komponen aktif dan komponen pasif. Setiap komponen elektronika dibuat dengan nilai dan fungsi yang berbeda berdasarkan produsen pembuat komponen elektronika tersebut. Setiap komponen elektronika memiliki tipe, nilai dan simbol yang berbeda-beda. Tipe dan nilai yang melekat pada suatu komponen elektronika memberikan arti fungsi dan pabrikan pembuatnya. Sedangkansimbol komponen elektronika ditentukan berdasarkan jenis dan fungsinya tanpa membedakan pabrik pembuat komponen elektronika tersebut.

berdasarkan fungsi dan cara kerjanya komponen elektronika dibedakan menjadi komponen pasif dan komponen aktif.

1. Komponen Pasif
Komponen pasif adalah komponen elektronika yang dalam pengoperasiannya tidak membutuhkan suber tegangan atau sumber arus tersendiri. Komponen pasif pada umumnya digunakan sebagai pembatas arus, pembagi tegangan, tank circuit dan filter pasif.

a. Resistor
Resistor adalah komponen yang berfungsi menahan arus listrik. Memiliki satuan internasional Ohm (Ω)
Semakin tinggi nilai resistor (R), semakin rendah arus (I), dan sebaliknya.
sesuai hukum Ohm   R= V/I .

Untuk menghitung nilai tahanan dari resistor kita dapat melihat tabel warna seperti di bawah ini ;

b. Kapasitor
Kapasitor adalah komponen elektronika yang berfungsi untuk menyimpan muatan listrik sementara. Bentuk fisik salah satu kapasitor dan simbol kapasitor dapat dilihat seperti pada gambar berikut.

c. Transformator
Trafo adalah alat listrik yang berfungsi untuk menaikkan atau menurunkan tegangan listrik.

2. Komponen Aktif
Komponen aktif adalah komponen elektronika yang dalam pengoperasiannya membutuhkan sumber tegangan atau sumber arus dari luar. Ada banyak tipe komponen aktif yang digunakan dalam rangkaian atau sitem elektronika. Secara umum komponen aktif dibangun mengunakan bahan semikonduktor yang didesain sedemikian rupa sehingga memiliki fungsi, nilai dan kapasitas sesuai kebutuhan yang diinginkan.

a. Dioda
Dioda adalah komponen yang berfungsi sebagai penyearah arus, yaitu dengan mengalirkan arus yang searah dan memblok arus yang berlainan arah. Bisa juga digunakan sebagai filter pada rangkaian.

b. Transistor
Transistor adalah komponen yang berfungsi sebagai penguat, sirkuit switch (pemutus-penyambung), stabilisasi tegangan dan lain-lain. Transistor bisa dibayangkan sebagai sebuah ‘kran listrik’ pada elektronika.

sumber dan sumber2

Rangkaian Listrik Seri dan Paralel

Rangkaian Seri

Rangkaian Seri merupakan salah satu jenis dari rangkaian listrik.
Rangkaian ini adalah suatu rangkaian listrik yang disusun secara sejajar dimana komponen-komponen dipasang berurutan. Dalam kata lain rangkaian listrik yang dipasang secara seri memiliki susunan antar komponen yang berurutan. Penerapan rangkaian seri sering digunakan pada bagunan-bangunan atau gedung-gedung besar seperti perkantoran, kampus, dan hotel. Rangkaian ini sering digunakan karena memiliki cara pengaktifan yang praktis. Hanya dibutuhkan satu switch untuk mode aktif keseluruhan. Contoh konkret dari penerapan rangkaian ini adalah pada lampu-lampu jalan. Penerapan hokum ohm dengan mudah diaplikasikan melihat nilai hambatan yang dapat dicari dengan menjumlahkan seluruh komponen tersebut.

V=I.R ; RTotal = R1 + R2 + R3 + ….+ Rn

 

CONTOH RANGKAIAN SERI

seri

 

Rangkaian Seri memiliki beberapa kelebihan yaitu lebih praktis untuk digunakan. Penggunaan tersebut juga bisa deatur secara manual atau automatik.

 

Rangkaian Paralel

Rangkaian Paralel sebenarnya merupakan sebuah rangkaian listrik yang disusun dengan tidak sebaris. Pada rangkaian ini, inpu untuk setiap komponen adalah dari sumber yang sama.

Contoh Rangkaian Paralel

paralel

Sumber